JAKARTA – Pasca diguncang kerusuhan parah pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kini, tabir di balik aksi anarkis tersebut perlahan mulai tersingkap. Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya secara serius mendalami dugaan adanya “otak” di balik kekacauan itu. Mereka tidak hanya mencari para pelaku di lapangan, tetapi juga mengincar aktor intelektual, penyedia dana, hingga para penggerak massa yang sengaja menciptakan kerusuhan.
“Kami sedang melakukan pendalaman terhadap aktor intelektual, melakukan pendalaman terhadap dugaan penyedia dana, maupun para penggerak massa perusuh,” tegas Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Iman Imanuddin, dalam konferensi pers yang digelar di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, pada Rabu, 2 September 2026.
Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Kombes Iman menjelaskan bahwa pola tindakan yang ditunjukkan oleh para pelaku kerusuhan mengindikasikan adanya mobilisasi dan perencanaan yang matang. Ini bukanlah sekadar emosi sesaat atau insiden spontanitas biasa. Ada dugaan kuat bahwa ada kekuatan tersembunyi yang sengaja mengompori dan mengarahkan kerusuhan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang menarik, polisi secara tegas membedakan antara massa pengunjuk rasa yang menyampaikan aspirasi secara damai dengan kelompok yang kemudian melakukan tindakan anarkis. Menurut Kombes Iman, kegiatan penyampaian pendapat oleh para demonstran sebenarnya telah selesai sebelum kelompok perusuh ini muncul ke permukaan. “Kami luruskan juga rekan-rekan sekalian bahwa yang terjadi kerusuhan itu adalah bukan pengunjuk rasa. Bukan pengunjuk rasa,” ujarnya, menekankan perbedaan fundamental tersebut.
Kombes Iman membeberkan kronologi yang mengejutkan. Setelah aksi unjuk rasa yang tertib usai, secara tiba-tiba muncul sekelompok orang tak dikenal. Kelompok ini sama sekali tidak terlihat membawa spanduk atau menyampaikan aspirasi. Tujuan mereka jelas, langsung melakukan tindakan perusakan dan memicu kericuhan. “Kemudian secara tiba-tiba hadir kelompok orang yang tidak dikenal, bukan membawa aspirasi, tapi langsung melakukan perusakan,” jelasnya.
Dari hasil pendalaman sementara, kepolisian menduga kuat bahwa kelompok ini adalah rombongan perusuh yang terorganisir, bukan massa yang kebetulan lewat. Mereka memiliki pola tindakan tertentu yang terstruktur. Meskipun terlihat beraksi dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah, polisi curiga ada mobilisasi massa yang dilakukan secara terorganisir dari balik layar. “Walaupun terlihat per bagian, namun kami menduga ada mobilisasi. Ini model-model yang terorganisir, memiliki kemiripan dengan kejadian-kejadian atau kerusuhan yang kerap terjadi,” kata Kombes Iman, mengisyaratkan bahwa pola semacam ini pernah terdeteksi dalam insiden serupa sebelumnya.
Penyidik Polda Metro Jaya saat ini terus bekerja keras mengumpulkan petunjuk dan barang bukti. Setiap detail kecil menjadi penting untuk memastikan keterlibatan masing-masing pihak dalam kerusuhan yang telah merugikan banyak pihak ini. Tujuan utamanya adalah mengungkap siapa dalang di balik semua kekacauan, siapa yang menyediakan logistik, dan siapa yang menyulut api provokasi.
Sebelumnya, dalam langkah awal penyelidikan, Polda Metro Jaya telah berhasil menangkap tiga pelaku berinisial FR, MH, dan FM. Ketiganya diamankan karena terlibat dalam kasus perusakan sarana pemantauan kamera pengawas atau CCTV milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di sekitar kawasan DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, pada Kamis, 27 Agustus 2026. Penangkapan ini menjadi bukti keseriusan polisi dalam menindak tegas para pelaku anarkis.
Polda Metro Jaya berkomitmen penuh untuk menguak seluruh fakta di balik kerusuhan ini. Masyarakat menanti, siapa sebenarnya aktor-aktor di balik layar yang mencoba merusak kedamaian Jakarta dan memecah belah persatuan bangsa dengan mobilisasi massa perusuh yang terorganisir ini.(mw)






