JAKARTA – Dunia digegerkan dengan sebuah laporan investigasi mendalam dari surat kabar harian Israel, Haaretz, yang dirilis pada Rabu (26/8). Laporan tersebut memicu kekhawatiran global setelah mengungkap indikasi kuat bahwa Israel mungkin tengah menciptakan kondisi yang mendorong tindakan keji lokal di Jalur Gaza, Palestina. Situasi ini, menurut Haaretz, sangat mengingatkan pada tragedi pembantaian Sabra dan Shatila yang mengguncang dunia pada tahun 1982.
Dalam publikasinya, Haaretz dengan tegas memperingatkan bahwa tentara Israel semakin gencar menggunakan tentara bayaran, geng kriminal, bahkan pengedar narkoba. Mereka diduga ditugaskan untuk melakukan berbagai kejahatan perang atas nama Israel di Jalur Gaza. Investigasi yang mengguncang ini bukan tanpa dasar, melainkan diperkuat oleh kesaksian para tentara Israel sendiri, laporan-laporan PBB, dan analisis citra satelit yang tak terbantahkan.
Investigasi tersebut menemukan adanya “milisi kolaborator” yang dipersenjatai lengkap dan secara aktif beroperasi untuk mengusir warga Palestina dari rumah mereka. Milisi-milisi ini dilaporkan melakukan serangkaian operasi di seluruh Gaza. Data menunjukkan Israel telah melatih setidaknya lima kelompok milisi, dengan potensi kelompok keenam yang sedang dibentuk. Mereka beroperasi dari pangkalan-pangkalan yang dibentengi dengan kuat di dalam area yang diduduki Israel di wilayah kantong tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seorang tentara Israel memberikan kesaksian mengejutkan, menjelaskan bagaimana negara, militer, dan dinas intelijen Shin Bet, secara sistematis mengirim milisi yang telah dilatih untuk melaksanakan kejahatan perang. “Saya adalah orang yang harus melindungi mereka selama operasi mereka agar mereka tidak terluka,” ungkap tentara tersebut, menunjukkan betapa eratnya koordinasi ini.
Hubungan antara geng-geng ini dan militer Israel memang terlihat sangat dekat. Para pejuang milisi dilaporkan bebas berkeliaran di sekitar pos-pos tentara Israel tanpa hambatan. Tidak hanya itu, Israel juga bertanggung jawab memasok persenjataan, serta memberikan dukungan artileri dan drone yang krusial selama operasi mereka. “Mereka memasuki setiap bangunan, menjarah apa pun yang bisa mereka ambil, keluar dengan tumpukan barang, lalu membakar rumah tersebut,” kata seorang tentara Israel lain yang identitasnya dirahasiakan, menggambarkan kekejaman yang terjadi.
Lebih lanjut, investigasi Haaretz juga mengungkap fakta mengerikan bahwa setidaknya satu milisi yang didukung Israel memiliki kaitan dengan kelompok ekstremis ISIS. Pemimpin milisi tersebut, Yasser Abu Shabab, dilaporkan tewas di tangan Hamas pada Desember 2025. Meskipun Abu Shabab telah tiada dan bahkan dianggap pengkhianat oleh keluarganya sendiri, proyek milisi yang ia inisiasi terus berkembang pesat. Fenomena ini semakin intensif terutama sejak pengumuman gencatan senjata pada Oktober 2025.
Pemimpin milisi lainnya, Shawqi Abu Nasira, bahkan secara terbuka mengakui kolaborasinya dengan Israel melalui sebuah video daring. Dalih yang ia gunakan adalah ingin “membebaskan tanah dari Hamas,” sebuah klaim yang menimbulkan tanda tanya besar di tengah tuduhan kejahatan perang.
Penggunaan tentara bayaran dan geng kriminal ini diduga memiliki tujuan strategis yang lebih luas, yaitu untuk membuat kehidupan di Gaza tidak tertahankan bagi penduduknya. Taktik ini sejalan dengan seruan berulang-ulang dari beberapa menteri Israel untuk melakukan pembersihan etnis di Gaza. Mereka secara terbuka menyuarakan keinginan untuk mengganti populasi Palestina dengan pemukim Yahudi.
Di wilayah Shujaiya, misalnya, pasukan Israel dilaporkan telah meratakan pemakaman besar milik warga Palestina. Areal pemakaman itu kemudian diganti dengan lapangan pelatihan yang luas, berlokasi dekat dengan pangkalan milisi. Strategi ini dipandang sebagai upaya untuk melakukan ‘outsourcing’ sebagian dari rencana pembersihan etnis, dengan tujuan agar tentara reguler Israel tidak terlibat secara langsung dan meminimalkan sorotan internasional.
Saat ini, Israel sedang menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ). Selain itu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Tekanan hukum internasional terhadap Israel semakin meningkat, menambah kompleksitas konflik yang tak kunjung usai.
Menanggapi situasi ini, pihak Hamas menyatakan kepada Haaretz bahwa mereka tidak akan menyerahkan “senjata pertahanan” mereka. Sikap ini akan dipertahankan selama milisi-milisi yang didukung Israel tersebut tetap dipersenjatai, karena kelompok-kelompok tersebut dianggap sebagai ancaman langsung yang akan menargetkan mereka. (MW)






