TANGERANG SELATAN — Seorang remaja perempuan berusia 14 tahun di kawasan Ciater, Serpong, Tangerang Selatan, menjadi korban penculikan dan kekerasan seksual usai berkenalan dengan pria berusia 28 tahun melalui sosial media.
Korban sempat disekap selama hampir satu pekan di Pasar Rebo, Jakarta Timur, sebelum pelaku ditangkap warga saat hendak mengembalikan korban.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua RT 04 RW 07 Kelurahan Ciater, Arfian Bule (38) menceritakan, peristiwa tersebut bermula ketika korban dan pelaku berkenalan di sosial media lalu berjanji untuk bertemu.
Setelah bertemu, pelaku langsung membawa kabur korban tanpa sepengetahuan oranguanya.
Rudal Hipersonik Korut Targetkan Semenanjung Korea, Sulit Dilacak dan Dicegat!
“Kurang lebih itu dibawa kabur sekitar lima atau enam hari baru dibalikin. Pas dibalikin itu ketahuan, ketangkap pas mau ngedrop (menurunkan korban),” ujar Arfian kepada wartawan di lokasi, Rabu (23/9/2026).
Disekap dan diancam
Pelaku membawa korban ke rumahnya di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Selama berada di lokasi penyekapan, korban berulang kali mengalami tindakan asusila dan pengancaman dari pelaku.
“Yang bikin mirisnya lagi, ketika korban datang bulan, tetap dipaksa oleh pelaku. Korban juga diancam akan dibunuh jika teriak atau tidak mau melayani,” kata Arfian.
Berdasarkan pengakuan korban kepada pihak keluarga, aksi kekerasan seksual tersebut dialaminya sebanyak lima hingga enam kali selama masa penyekapan.
Warga bersiaga dan menangkap pelaku
Pelaku yang mulai panik akhirnya berinisiatif mengembalikan korban.
Namun, bukannya mengantarkan ke rumah, pelaku justru membawa korban ke lokasi lain di kawasan Ciater Permai.
Pihak keluarga dan warga sekitar yang sudah bersiaga melakukan pencarian sejak awal langsung mengintai dan mengepung area tersebut.
“Sebelum di-drop, ini ketahuan sama warga karena sudah dikepung di lokasi. Saat di-drop, langsung ketangkap sama warga,” tutur Arfian.
Korban trauma berat
Peristiwa keji ini menyisakan luka psikologis mendalam bagi korban. Arfian mengungkapkan, kondisi mental dan psikis remaja tersebut saat ini sangat terguncang dan membutuhkan pendampingan khusus.
“Kalau keadaan korban sih untuk saat ini mental dan psikisnya trauma. Dia tidak mau ketemu orang siapa pun selain dari keluarga, terutama orangtuanya,” ungkap Arfian.(ES)






