JAKARTA – “Adik saya dibawa ibu-ibu jahat,” kalimat itu yang pertama terucap oleh KI (9) setelah hampir 30 menit coba diajak berkomunikasi oleh warga yang menemukannya di kawasan Pegadungan, Kalideres, Jakarta Barat pada Rabu (30/9/2026).
“Saya mau kejar tapi enggak bisa,” lanjut KI sebagaimana diceritakan kembali oleh Juli (45) sang ibu saat berbincang dengan TribunJakarta.com mengenai kronologi penculikan yang dialami KI dan adiknya CI (8) saat keduanya tengah bersepeda menuju tempat les di rumah tantenya.
KI ditemukan dalam kondisi linglung di area permukiman kawasan Pegadungan atau sudah berbeda kelurahan dari wilayah tempat tinggalnya di kawasan Tegal Alur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia diminta turun oleh wanita bermotor yang sempat mengaku sebagai kerabat keluarga dan mengajak kedua kakak beradik itu berkeliling dengan motor.
Sebelum turun, pelaku yang mengenakan helm dan masker itu melucuti kalung emas KI seberat 2,5 gram.
“Jadi dia diturunin di pinggir jalan. Kan kalau ada dari CCTV-nya, si penculik itu kayak, kesana, kesana gitu. Kayak kasih kode, kamu kesana aja. Nah, masuk lah dia ke gapura. Dia kesana, mondar-mandir, diketemukan sama ibu-ibu,” papar Juli.
Beruntung, KI mengingat alamat rumahnya secara detail saat ditanyakan oleh warga.
Berbekal informasi itu, ia diantarkan oleh Ketua RT setempat ke rumahnya.
Sementara itu, sang adik baru berhasil ditemukan pada Rabu malam sekira pukul 19.00 WIB setelah tersebar berita di media sosial adanya anak hilang yang ditemukan warga.
Korban ditemukan di daerah Gempol Payak, Kalideres arah Bandara Soekarno-Hatta.
Ia ditinggalkan seorang diri di sebuah rumah kosong.
Proses penemuan adik korban juga berlangsung dramatis karena korban tak mau bersuara selama hampir satu jam dan hanya memberi isyarat tunjuk tangan.
Warga kemudian membawanya ke Pos RW setempat untuk ditenangkan hingga akhirnya mau diajak berkomunikasi.
“Kata ibu-ibu yang bawa aku, aku nggak boleh ngomong sama orang lain. Kalau diajak ngomong katanya nggak boleh ngomong. Kalau dikasih minum, nggak boleh minum. Nanti diracun,” ujar Juli meniru ucapan anak bungsunya saat ditanya warga.
“Ngomongnya begitu. Dua anak ini sama ngomongnya. Jadi yang bawa dia itu pesannya semuanya sama digituin,” sambung dia. (ES)






