JAKARTA – Pagi itu, Kamis 1 Oktober 2026, seharusnya menjadi hari biasa bagi Ansyori. Di usianya yang menginjak 59 tahun, semangatnya masih membara untuk menafkahi keluarga. Pukul 07.25 WIB, seperti ribuan driver ojol lainnya di penjuru Jakarta dan sekitarnya, ia memacu motornya, membawa seorang penumpang dari Jalan Merdeka Raya menuju Bukit Raya. Namun, takdir berkata lain. Perjalanan itu adalah perjalanan terakhir baginya.
Kisah pilu ini terjadi di Jalan Raya Merdeka Kompleks Serua Permai, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Sebuah insiden mendadak yang merenggut nyawa seorang pejuang nafkah di tengah hiruk pikuk Ibu Kota. Bukan karena tabrakan keras atau kelalaian, melainkan dugaan serangan jantung yang datang tanpa permisi.
Tragedi Pagi Hari di Ciputat
Kapolsek Ciputat Timur, Kompol Bambang Askar Sodiq, menjelaskan kronologi kejadian yang mengejutkan ini. Ansyori, sang driver ojol, tengah membonceng Saudari Yunita Amelia. Mereka melaju seperti biasa, mengarungi kepadatan lalu lintas pagi hari. Namun, tiba-tiba saja, motor yang dikendarai Ansyori oleng dan terjatuh. Penumpang Yunita Amelia pun tak kuasa menahan diri, ikut tumbang ke aspal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertolongan Warga dan Penemuan Mengejutkan
Saksi mata yang berada di lokasi kejadian langsung sigap. Melihat dua orang tergeletak di jalan, naluri kemanusiaan mereka tergerak untuk memberikan pertolongan. Warga sekitar berhamburan mendekat, berusaha membantu mengangkat dan memeriksa kondisi kedua korban. Harapan mereka adalah keduanya hanya terluka dan bisa segera bangkit kembali.
Namun, setelah diperiksa lebih dekat, sebuah kenyataan pahit terungkap. Tubuh Ansyori kaku, tak bergerak. “Setelah itu saksi mengecek kondisi korban dan ternyata korban sudah meninggal dunia,” imbuh Kompol Bambang. Kabar ini sontak mengejutkan warga yang berada di lokasi. Harapan berganti duka, dan kepanikan mulai menyelimuti.
Menyadari keseriusan situasi, saksi tersebut tanpa menunggu lama langsung menghubungi call center 110. Tak berselang lama, laporan pun diteruskan ke pihak kepolisian. Petugas dari Polsek Ciputat Timur segera meluncur ke lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi dan penyelidikan lebih lanjut.
Dengan sigap, tim kepolisian tiba di lokasi. Jalan Raya Merdeka Kompleks Serua Permai yang sebelumnya ramai, kini dipenuhi oleh warga yang ingin tahu dan petugas yang bekerja. Ambulans pun segera datang, membawa pergi jasad Ansyori yang malang. “Korban meninggal dunia di tempat, diduga bapak ojol itu mengalami serangan jantung,” tegas Kompol Bambang Askar Sodiq.
Serangan Jantung: Ancaman Tak Terlihat Bagi Pekerja Jalanan
Dugaan serangan jantung ini memang seringkali menjadi momok tak terduga, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas fisik tinggi dan tekanan kerja. Driver ojol adalah salah satu profesi yang menuntut stamina prima, menghadapi panas, hujan, dan polusi setiap hari. Jam kerja yang panjang dan potensi stres di jalanan bisa menjadi pemicu.
Kepergian Ansyori bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga menyisakan tanda tanya besar bagi banyak pihak. Bagaimana dengan kesehatan para pekerja di jalanan? Seberapa penting pemeriksaan kesehatan rutin bagi mereka yang terus bergerak demi mengais rezeki? Insiden ini menjadi pengingat pahit akan kerapuhan hidup dan pentingnya menjaga kesehatan di tengah tuntutan pekerjaan yang tak kenal lelah.
Penumpang, Saudari Yunita Amelia, beruntung tidak mengalami luka parah. Namun, pengalaman traumatis ini tentu akan membekas dalam ingatannya. Dalam sekejap mata, perjalanan biasa berubah menjadi momen yang tak akan pernah ia lupakan, menyaksikan secara langsung perjuangan terakhir seorang driver ojol.
Kisah Ansyori adalah cerminan dari jutaan pejuang nafkah di Indonesia yang mempertaruhkan fisik dan waktu demi keluarga. Sebuah pengingat bahwa di balik setiap jaket hijau dan helm, ada kisah, ada keluarga, dan ada perjuangan hidup yang kadang harus berakhir dengan cara yang tak terduga dan menyedihkan. Semoga Ansyori beristirahat dengan tenang, dan keluarganya diberikan ketabahan.






