JAKARTA – Dunia maya dihebohkan dengan kabar dugaan pengeroyokan terhadap seorang mahasiswa berinisial AHP (20) di kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan. Ironisnya, AHP diketahui merupakan putra dari mantan Komandan Banser DKI Jakarta periode 2016-2020. Insiden yang terjadi pada 26 Agustus lalu ini kini telah dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Selatan dan tengah dalam penanganan serius.
Kasus ini mencuri perhatian publik, tak hanya karena latar belakang korban, tetapi juga kronologi kejadian yang disebut bermula dari hal sepele. LBH GP Ansor DKI Jakarta, melalui Sekretaris Ismunanda Umafagur, menegaskan bahwa AHP adalah “keluarga kita” dan mendesak kepolisian untuk bertindak konkret dalam menuntaskan perkara dugaan pengeroyokan ini.
Menurut keterangan Ismunanda, peristiwa ini berawal ketika AHP pada Selasa malam, 25 Agustus, sekitar pukul 23.00 WIB, sedang berkumpul dengan teman-temannya untuk mengerjakan tugas kuliah. Di tengah kegiatan itu, seorang kakak kelasnya di SMA menghubungi dan mengajaknya bertemu. Pertemuan pun terjadi, di mana mereka membicarakan masa-masa sekolah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam perbincangan nostalgia tersebut, AHP disebut sempat menyebut nama seseorang yang kemudian diduga menjadi salah satu pelaku pengeroyokan. Nama yang terucap ini rupanya memicu reaksi. Tak lama kemudian, terduga pelaku tersebut menghubungi AHP melalui pesan langsung (Direct Message) untuk menanyakan apa yang telah dibicarakan.
Ismunanda menduga, pemicu utama insiden ini adalah rasa tersinggung dari salah satu terduga pelaku. Ia merasa namanya disebut atau disinggung dalam percakapan AHP dengan kakak kelasnya. Persoalan sederhana ini kemudian berkembang menjadi perselisihan serius yang berujung pada dugaan pengeroyokan terhadap AHP.
Untuk mengklarifikasi kesalahpahaman yang terjadi, AHP dan terduga pelaku sepakat bertemu di kawasan Kalibata. Namun, pertemuan yang seharusnya menjadi ajang klarifikasi itu justru berubah menjadi insiden mengerikan. Menurut keterangan AHP, terduga pelaku datang tidak sendirian, melainkan bersama rombongan teman-temannya menggunakan tiga mobil, dengan total sekitar delapan orang.
Suasana mendadak tegang ketika salah satu teman AHP memberikan peringatan. Teman korban melihat salah satu terduga pelaku diduga mengambil senjata api dari dalam mobil. Kepanikan pun tak terhindarkan. AHP mencoba melarikan diri untuk mengamankan diri, namun nahas, ia terjatuh. Pada saat itulah, AHP diduga dikeroyok oleh sejumlah orang yang datang bersama terduga pelaku.
Mendengar kabar dugaan pengeroyokan yang menimpa salah satu “keluarga”-nya, LBH GP Ansor DKI Jakarta langsung bergerak. Wakil Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta, Redim Okto, mengapresiasi respons cepat kepolisian dalam menangani kasus ini. Namun, ia juga melontarkan permintaan tegas agar proses penanganan perkara ini dilanjutkan secara konkret dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
“Ini harus ada tindakan yang lebih konkret, tindakan lebih lanjut agar perkara ini segera ditindaklanjuti. Karena ada saksi, ada bukti, ada CCTV, dan lainnya. Kami berharap perkara ini segera ditangani sesuai dengan ketentuan hukum,” ujar Redim Okto, menekankan pentingnya transparansi dan kecepatan dalam penegakan hukum.
Pihak kepolisian, dalam hal ini Polres Metro Jakarta Selatan, mengkonfirmasi sedang menangani perkara dugaan pengeroyokan yang menimpa AHP. Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan, AKP Joko Adi Wibowo, menjelaskan bahwa kasus ini telah mengalami peningkatan status dari tahap penyelidikan menjadi penyidikan.
“Saat ini kan kita sudah tingkatkan ke tahap penyidikan, karena dinilai sudah cukup bukti bahwa perkara ini adalah perkara pidana,” terang AKP Joko. Dengan naiknya status ke penyidikan, langkah selanjutnya yang akan dilakukan penyidik adalah memanggil saksi-saksi, termasuk saksi terlapor yang diduga terlibat dalam insiden pengeroyokan ini. Publik kini menanti perkembangan kasus ini dan berharap keadilan segera terungkap.(mw)






