DEPOK – Sebuah rekaman video singkat namun mengejutkan, baru-baru ini viral di jagat maya, menampilkan adegan seorang pria yang terekam jelas kamera CCTV sedang mencuri sepasang sepatu di area Masjid Universitas Indonesia, Depok. Aksi nekat ini sontak menjadi perbincangan hangat, memicu beragam reaksi dari warganet yang menyaksikannya.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat jelas pria tersebut dengan santai mengenakan kaus kaki. Tanpa ragu, ia mendekati deretan sepatu yang tergeletak di dekatnya, memilih sepasang sepatu Asics GT-2000 yang ditaksir memiliki harga lumayan, lalu langsung memakainya dan berlalu pergi meninggalkan lokasi kejadian seolah tak terjadi apa-apa. Dinarasikan, insiden memalukan ini terjadi pada Senin sore, 28 September 2026, di salah satu fasilitas ibadah yang seharusnya aman dan nyaman bagi seluruh jamaah.
Kasus pencurian sepatu Asics yang menyebar luas ini tak luput dari perhatian aparat kepolisian. Kapolsek Beji, Kompol Antonius, ketika dimintai konfirmasi pada Rabu, 30 September 2026, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Namun, ada detail menarik yang diungkapkan oleh kepolisian terkait tindak lanjut kasus ini. Berbeda dengan kasus pencurian pada umumnya yang kerap berujung pada laporan polisi dan proses hukum panjang, kejadian di Masjid UI ini menemui jalan penyelesaian yang tak terduga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ternyata, di balik aksi nekat pria pencuri sepatu tersebut, tersimpan sebuah kisah yang cukup memilukan. Kompol Antonius menjelaskan bahwa pelaku diketahui mengidap sakit paru-paru. Alasan utama yang melatarbelakangi tindakannya mencuri sepatu Asics tersebut adalah desakan kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya untuk pengobatan penyakit yang dideritanya. Kondisi kesehatan yang buruk dan kesulitan ekonomi seringkali mendorong seseorang untuk melakukan tindakan di luar batas, dan kasus ini menjadi salah satu cerminan dari kompleksitas masalah sosial.
Mengingat kerugian yang dialami korban tergolong ringan dan korban sendiri memilih untuk tidak membuat Laporan Polisi (LP), pihak kepolisian bersama keamanan UI dan anggota Bhabinkamtibmas mengambil pendekatan ‘problem solving’. Keluarga pelaku menunjukkan itikad baik dan bersedia mengganti rugi sepatu Asics yang telah dicuri. Mediasi ini mencapai kesepakatan damai, menghindari proses hukum yang berbelit-belit, sekaligus memberikan solusi adil bagi kedua belah pihak tanpa harus memenjarakan pelaku.
Keputusan untuk tidak melanjutkan kasus ke ranah hukum formal ini menunjukkan adanya pertimbangan kemanusiaan yang kuat. Kondisi pelaku yang mengidap penyakit serius dan desakan ekonomi menjadi faktor penting dalam penentuan penyelesaian. Ini juga mencerminkan peran aparat dalam menyelesaikan konflik di tingkat akar rumput, memprioritaskan penyelesaian secara kekeluargaan dan musyawarah.
Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua tentang pentingnya empati dan upaya mencari solusi terbaik di tengah permasalahan sosial. Terkadang, di balik sebuah tindakan yang salah, ada latar belakang yang kompleks dan memilukan. Peran aktif keluarga pelaku dalam bertanggung jawab dan kesediaan korban untuk memaafkan, menjadi kunci utama dalam penyelesaian damai insiden ini, membuktikan bahwa pendekatan humanis kadang kala lebih efektif.
Pada akhirnya, insiden pencurian sepatu Asics di Masjid UI Depok ini lebih dari sekadar berita viral biasa. Ia membawa serta sebuah narasi tentang kesulitan hidup, pertimbangan kemanusiaan, dan bagaimana sebuah komunitas mampu menemukan jalan keluar melalui dialog dan rasa saling pengertian. Sebuah akhir yang damai untuk sebuah peristiwa yang awalnya menggegerkan, sekaligus meninggalkan pesan mendalam bagi kita semua. (ES?)






