“Akibat dari kegagalan komunikasi tersebut, baik PPKP selatan maupun PPKP timur tidak menerima informasi mengenai situasi dan kondisi gangguan perjalanan KA yang ada di Stasiun Bekasi Timur, sehingga PPKP tidak memiliki informasi yang memadai untuk membuat keputusan terkait pengendalian KA yang sesuai dengan kondisi pada saat itu,” tulis KNKT.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
a. PPKP Selatan melayani saluran komunikasi radio KA Commuter Line dengan menggunakan dua konsol berbeda, yaitu Sepura dan Tait Section 27.
b. PPKP Timur melayani saluran komunikasi Radio Lokomotif KA Jarak Jauh Section 1.
KNKT menyebut pengendalian KRL di wilayah timur Daop 1 Jakarta dikendalikan PPKP timur, namun PPKP timur tidak dapat berkomunikasi langsung dengan KRL. Hal itu menyebabkan komunikasi antara PPKP dengan KRL di wilayah timur dilakukan oleh PPKP selatan.
Investigasi KNKT tidak menemukan adanya prosedur yang mengatur mekanisme penyampaian informasi antara PPKP selatan dan PPKP timur. Dalam kejadian ini, kata KNKT, PPKP timur mendapatkan informasi terkait kecelakaan di JPL 86 karena mendengar komunikasi antara PPKP selatan dengan KA 5181B.
Namun, kata KNKT, PPKP timur tidak menerima informasi lengkap terkait situasi dan kondisi di sekitarnya. Hal ini berdampak pada tidak akuratnya informasi dan perintah yang diberikan oleh PPKP timur kepada KA 4B (KA Anggrek).
Kondisi itu menyebabkan masinis KA Anggrek tidak mempunyai informasi yang cukup untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan situasi pada saat itu.
“Kondisi ini berpotensi mengurangi kejelasan penerimaan informasi karena suara dari satu saluran komunikasi dapat mengganggu pendengaran terhadap saluran komunikasi di PPKP lainnya,” ujar KNKT.
Hasil observasi KNKT terhadap tempat kerja PPKP Selatan juga menunjukkan seorang operator harus mengelola berbagai sistem operasi dan komunikasi secara bersamaan. Antara lain meliputi sistem monitoring perjalanan kereta, beberapa konsol radio, sistem Locotrack, ROLINK, telepon, serta perangkat komunikasi lain yang tersebar pada meja kerja.
“Konfigurasi tersebut mengharuskan operator membagi perhatian secara terus menerus di antara berbagai sumber informasi visual maupun audio. Pada saat terjadi kondisi tidak normal, seperti kecelakaan yang memerlukan klarifikasi informasi, koordinasi, dan pengamanan perjalanan kereta lain secara bersamaan, kebutuhan untuk memantau berbagai sistem dan saluran komunikasi secara simultan berpotensi meningkatkan beban kerja mental (mental workload) operator,” ujar KNKT.
Kualitas audio komunikasi yang kurang jelas juga meningkatkan kebutuhan operator untuk melakukan verifikasi berulang terhadap informasi yang diterima. Kombinasi antara berbagai persoalan itu menyebabkan penyampaian informasi keselamatan menjadi kurang efektif. Dalam transkrip percakapan yang terdapat dalam laporan ini, terlihat PPKP selatan beberapa kali menanyakan kondisi yang dilaporkan oleh masinis. (ES)






