DEPOK – Suasana malam di Tebet, Jakarta Selatan, mendadak mencekam bagi Hafidz Hernanda, Koordinator Bidang Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI). Dikenal dengan sapaan akrab Bapis, ia menjadi korban penyerangan misterius usai mengikuti konsolidasi penting. Insiden ini, yang terjadi pada Minggu malam (4/10/2026), bukan sekadar aksi begal biasa. BEM UI menyoroti serangkaian kejanggalan yang memunculkan pertanyaan besar: benarkah ada motif tersembunyi di balik kekerasan ini?
Bapis diserang orang tak dikenal (OTK) saat perjalanan pulang setelah berdiskusi dengan sejumlah pemangku kepentingan. Konsolidasi tersebut tak lain berkaitan dengan rencana aksi mahasiswa terkait dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, yang diagendakan pada 20 Oktober 2026. Akibat penyerangan ini, Bapis mengalami luka di kepala dan wajah. Tas serta handphone miliknya raib dibawa pelaku. Namun, BEM UI tegas menilai ada sesuatu yang janggal.
Kronologi yang Penuh Tanda Tanya
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI, Namora Siahaan, membeberkan kronologi yang mengusik nalar. Sekitar pukul 23.30 WIB, Bapis meninggalkan lokasi konsolidasi di Tebet dengan sepeda motor menuju Depok. Hanya berselang 20 menit, tepatnya pukul 23.50 WIB, sebuah motor dari arah berlawanan tiba-tiba menendang motor Bapis hingga ia terjatuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kejanggalan pertama langsung terlihat. Pelaku yang seorang diri itu, alih-alih mengambil barang berharga atau motor, justru langsung menghajar Bapis. “Tidak ada upaya untuk mengambil barang ataupun mengambil motor pada awalnya,” jelas Namora. Pertengkaran fisik berlangsung sekitar 5 menit, hingga Bapis sempat berhasil mencengkeram pelaku.
Ancaman Maut dan Fitnah ‘Maling’
Saat terdesak, pelaku melontarkan ancaman yang mengerikan. “Lu mau mati? Lu mau mati di sini,” kata pelaku, sambil memasukkan tangannya ke balik hoodie-nya. Ancaman ini membuat Bapis melepaskan cengkeramannya, khawatir pelaku mengambil senjata. Momen krusial ini menunjukkan niat yang jauh melampaui sekadar perampokan.
Tak lama, dua rekan pelaku muncul. Bukannya membantu mengambil barang, mereka malah berteriak, “Ini ada maling, ada maling!” Mencoba memutarbalikkan fakta, menjadikan Bapis sebagai target fitnah. Dalam keributan singkat sekitar 30 detik itu, barulah tas dan handphone Bapis diambil. Ketiga pelaku kemudian kabur bersamaan.
Misteri Fitur ‘Find My’ yang Mati Sendiri
Salah satu bukti paling mencurigakan yang diungkap BEM UI adalah kondisi fitur pelacak lokasi ‘Find My’ di handphone Bapis. Berdasarkan pemeriksaan internal, fitur vital ini tercatat mati sekitar pukul 23.39 WIB, padahal penyerangan baru terjadi pukul 23.50 WIB. Bapis sendiri mengaku tidak pernah mematikan fitur tersebut. Siapa yang mematikannya dan mengapa, menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab.
Kecurigaan BEM UI bahwa insiden ini bukan begal biasa semakin menguat. Konteks pertemuan politik yang baru saja diikuti Bapis, ditambah dengan serangkaian kejanggalan yang terkuak, mengindikasikan adanya motif di luar kriminalitas murni. Apakah ini adalah bentuk intimidasi terhadap aktivis mahasiswa menjelang aksi besar? Pihak berwenang diharapkan segera mengusut tuntas kasus ini agar kebenaran terungkap dan pelaku bertanggung jawab. Keselamatan para aktivis dan kebebasan berekspresi mahasiswa harus terjamin, tanpa ada bayang-bayang ancaman. (ES)






