JAKARTA – Pernahkah terbayang sebuah taman bermain yang seharusnya menjadi oasis keceriaan bagi anak-anak dan tempat berkumpul warga, kini berubah menjadi area gelap, sunyi, dan penuh kerusakan? Inilah potret menyedihkan yang kini melanda Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pedongkelan di Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Fasilitas yang semestinya dijaga bersama, satu per satu justru hilang dicuri, meninggalkan bekas luka mendalam bagi warga sekitar.
Kondisi RPTRA Pedongkelan kini jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan beberapa tahun silam. Apa yang dulu berdiri kokoh dan bercahaya, seperti lampu taman yang menerangi malam, kini raib tak berbekas. Pagar-pagar besi yang berfungsi sebagai pembatas dan pengaman pun ikut lenyap, seolah ditelan bumi. Laporan mengenai kehilangan ini bukan isapan jempol semata, Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Tamhut) Jakarta Barat, Dirja Kusuma, membenarkan adanya pencurian fasilitas di RPTRA tersebut. “Laporan dari Satpel Tamhut kecamatan memang hilang, ada yang dicuri,” ujar Dirja, dikutip dari Antara pada Selasa (29/9/2026).
Meski kerugian sudah jelas di depan mata, laporan resmi kepada pihak kepolisian rupanya belum dibuat. Ada prosedur yang harus dipatuhi, yaitu laporan awal mesti datang dari petugas pengamanan dalam (pamdal) RPTRA, yang kemudian akan diteruskan oleh Sudin Tamhut kepada aparat penegak hukum (APH). “Belum, karena harusnya kalau sesuai arahan, dari pamdal yang membuat laporan, nanti baru kita teruskan ke APH,” terang Dirja. Proses ini, meskipun mengikuti alur, mungkin terasa lambat bagi warga yang menyaksikan fasilitas umum kesayangan mereka perlahan-lahan hancur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Masalah di RPTRA Pedongkelan tidak hanya berhenti pada aksi pencurian. Sejumlah fasilitas lain juga turut rusak, menambah panjang daftar duka bagi taman ini. Sarana bermain anak-anak yang seharusnya memicu tawa dan kegembiraan kini banyak yang tidak layak pakai. Pot-pot semen yang dulu mempercantik taman kini retak dan pecah. Kerusakan menyeluruh ini menciptakan pemandangan yang memilukan, jauh dari citra RPTRA sebagai ruang publik yang terawat dan ramah anak.
Menanggapi kondisi ini, Dirja Kusuma menyatakan bahwa pihaknya telah bergerak cepat untuk melakukan pengecekan lokasi bersama Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) setempat. “Kita sudah cek lokasi bersama Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) di sana. Setelah dicek, rencananya, kita akan memperbaiki secepatnya menggunakan material yang ada di stok kami,” jelas Dirja. Tim juga telah turun ke lapangan untuk menginventarisasi secara detail kehilangan dan kerusakan, termasuk mengukur berapa meter pagar yang hilang, guna menghitung kebutuhan material perbaikan yang akurat. Data ini kemudian akan ditindaklanjuti untuk restorasi RPTRA Pedongkelan.
Namun, bagi warga seperti Santi (47), seorang penduduk sekitar Taman Pedongkelan, kondisi saat ini adalah sebuah kehancuran yang hampir sempurna. Ia mengungkapkan rasa kecewa dan keprihatinannya. “Kalau dibilang sekarang, mah, sudah hampir 99 persen hancur, sudah nggak kayak dulu,” ucap Santi dengan nada miris. Ia mengingat bagaimana pagar-pagar besi di beberapa bagian taman sudah tidak ada, bangku-bangku tempat warga bersantai juga banyak yang hilang atau rusak. “Pagar-pagar ini sebelah sana sudah separuh hilang. Banyak yang hilang-hilang. Hilang pada diambilin sama oknum, besi-besi dicolongin,” tambahnya, menunjuk ke arah bagian taman yang kosong.
Dampak paling terasa dari kehilangan dan kerusakan ini adalah gelapnya RPTRA Pedongkelan di malam hari. Lampu-lampu penerangan yang mati total atau raib membuat suasana taman menjadi mencekam dan tidak aman. “Dulu terang, terus bagus dilihat juga. Kita senang melihatnya, nongkrong juga betah, apalagi yang olahraga,” kenang Santi. Kontras dengan masa lalu, kini tak ada lagi warga yang berani bersantai atau berolahraga setelah senja tiba. Keamanan menjadi taruhan, kenyamanan pun sirna. RPTRA yang dulunya menjadi denyut nadi interaksi sosial dan kegiatan positif, kini hanya menyisakan puing-puing dan kegelapan, menunggu uluran tangan dan perbaikan serius agar kembali menjadi “ramah anak” seperti namanya. (ES)






